15.8.12

Siapa Sebenarnya Manusia Kerdil di Taman Nasional Meru Betiri

15.8.12
Saya termasuk tipe blogger yang tidak peduli dengan urusan statistik pengunjung, pagerank, dan segala macam kegiatan blog yang berhubungan dengan angka-angka. Dan hari ini, ketika saya membuka statistik blog, saya dikejutkan oleh sebuah tulisan berjudul Manusia Kerdil Di Taman Nasional Merubetiri. Jumlah pengunjungnya ribuan. Setiap hari ada saja yang inguk-inguk kesana.

Tulisan tersebut berkisah tentang Manusia kerdil (sebenarnya lebih pas disebut dengan manusia mini, karena anatomi tubuhnya yang tidak cebol) di Taman Nasional Meru Betiri - Jawa Timur.

Orang orang yang tinggal di sekitar TNMB biasa menyebut manusia kerdil ini dengan sebutan wong wil, atau owil, atau ada juga yang menyebutnya siwil. Sebutan lain untuk manusia kecil ini adalah Mumut, Manusia Katai atau Homo pigmi sp, dan ada juga yang menghubungkan manusia kecil ini sebagai subspesies dari homo floresiensis (mengingat jarak antara Jawa dengan Flores tidak begitu jauh).

Nyata atau tidak?

Pertanyaan yang sering saya terima setelah menulis tentang siwil adalah tentang apakah manusia kecil ini hanya cerita rakyat atau benar-benar ada dan nyata.

Jika kita perhatikan lebih seksama lagi, kita rakyat Indonesia memiliki semacam sudut pandang yang lebih mempercayai peneliti dari dunia barat (yang dianggap lebih wah, lebih kredibel dan lebih ilmiah) ketimbang potensi kearifan lokal yang kita miliki. Ketika ada seorang warga lokal yang menuturkan kisah perjumpaannya dengan siwil, maka apresiasi yang didapatkannya tak lebih hanya sebuah cibiran belaka. Padahal ini hanya karena bahasa tutur yang digunakan (berhubungan erat dengan tingkat pendidikan masyarakat lokal). Dan pada saat saya tuliskan bahwa pada tahun 1992 ada dua orang peneliti dari Inggris (Debbie Martyr dan Jeremy Holden) yang meneliti keberadaan siwil atas biaya organisasi flora dan fauna Internasional, saya yakin semua pembaca akan lebih memaknainya. Ketika Debbie Martyr dan Jeremy Holden tidak mendapatkan hasil seperti yang diharapkan, bisa jadi banyak diantara anda yang menganggukkan kepala dan menganggap kisah tentang siwil hanyalah sekedar legenda belaka. Bukankah itu adalah sebuah penilaian yang tergesa-gesa?

Mari kita renungkan kembali. Seorang peneliti dari luar, sehebat apapun alat penelitian yang digunakan, dia hanya melakukan penelitian dalam hitungan bulan. Paling banter setengah tahun. Sangat jauh berbeda bila dibandingkan dengan orang-orang lokal yang hidup secara turun temurun. Mereka lebih mengenal medan dan lebih berpotensi untuk bertemu dengan para siwil. Bagaimanapun, kita juga butuh data lisan dari penduduk lokal.

Apa yang mereka lihat (siwil) tidak hanya penampakannya saja, tapi juga meninggalkan bekas berupa jejak kaki dan ilalang yang berubah bentuk akibat terlalui langkah-langkah siwil.

Seorang kawan bernama Ananda pernah menemukan jejak kaki-kaki kecil (seperti telapak balita) di tempat yang lain, yaitu di arah menuju puncak Gunung Raung. Ini menandakan persebaran siwil tidak hanya terpusat di Taman Nasional Meru Betiri.

Bila ada jejak, sudah pasti kisah tentang siwil adalah nyata adanya.

Masih membahas tulisan saya sebelumnya (Manusia Kerdil di Taman Nasional Meru Betiri). Di sana saya paparkan mengenai prediksi (subyektif) keberadaan para siwil.

Prediksi Tentang Keberadaan Siwil :

1. Mereka adalah orang buangan atau sengaja mengasingkan diri (sejak jaman kerajaan). Alasannya bermacam-macam. Mereka tidak mau membayar upeti dan atau memiliki masalah hukum dengan pihak kerajaan lalu diasingkan. Tidak mau menjadi prajurit, lari dari kewajiban tanam paksa, menghindari perang, menghindari wabah, dan masih banyak lagi. Atau jika kita tarik dari sejarah terbaru (awal abad 19), bisa jadi mereka adalah para pekerja paksa pembuat jalan Deandels yang kabur dan bertahan hidup. Tapi saya berprediksi, cikal bakal siwil lebih lama lagi.

Poin ini juga menyegarkan kembali ingatan saya (selama berproses di Sastra Ilmu Sejarah) tentang genosida atau kisah-kisah pembantaian sebuah komunitas. Misalnya, kisah pembantaian suku using - Banyuwangi dalam perang puputan bayu. Bisa jadi orang-orang siwil yang sekarang ini adalah sisa dari komunitas yang dibantai. Mereka bertahan hidup dengan berbagai cara.

2. Ketidakpercayaannya terhadap manusia lain membuat mereka menghindar dari orang asing. Dan ini berlaku turun temurun secara genetis. Saya namakan ini sebagai bagian dari penyesuaian diri dengan lingkungannya.

3. Mereka tidak memiliki kemampuan untuk memproduksi garam beryodium secara mandiri. Alasannya, mungkin tempat yang mereka tinggali jauh dari lautan, atau memang sedari awalnya tidak memiliki kemampuan ini. Efeknya ada pada perkembangan tubuhnya. Kekurangan zat yodium.

4. Mereka kekurangan sinar matahari, oleh sebab tinggal di sebuah hutan yang lebat.

5. Inses. Mereka dituntut untuk regenerasi. Padahal jumlah mereka sedikit. Dan mereka menutup diri dengan dunia luar. Yang terjadi adalah perkawinan (antar lawan jenis) dengan kekerabatan yang dekat. Atau bisa jadi dengan saudara sedarah. Ini buruk untuk generasi yang dilahirkan.

Itulah beberapa poin prediksi subyektif saya.

Penutup

Setelah membuka kembali tulisan lama tersebut, saya sadar ternyata saya punya hutang informasi pada sahabat blogger semua. Tentang bagaimana kira-kira sketsa bentuk siwil.

Kabar baiknya,sayatelah dikirimi sebuah catatan oleh Mas Didik Raharyono,lengkap dengan sketsa anatomi tubuh siwil dewasa. Mas Didik memperolehnya dengan tidak mudah. Dia membuatnya pada tahun 1997, saat melakukan investigasi harimau jawa di berbagai kawasan di Jawa Timur. Alhamdulillah, saya telah mendapat ijin untuk memuat catatan Mas Didik (beserta sketsanya).InsyaAllah besok sudah bisa saya posting di blog acacicu ini.

Sahabat blogger, nantikan catatan selanjutnya. Terima kasih dan salam lestari.

8 komentar:

  1. bener pisan ..
    meski sering denger cerita manusia kerdil, tapi belum tahu seperti apa gambar/sketsanya ...
    tak tunggu sam lanjutane :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Dam. Secepatnya akan diposting artikel (beserta sketsa siwil) dari Mas Didik Raharyono. Beliau adalah aktivis lingkungan yang juga tercatat sebagai :

      Director di Javan Carnivor Care
      Owner di CV. Kencana Wulung
      Koord. Flora & Fauna di Forest Protection Society

      Dulunya juga pernah berproses aktif sebagai Koord. Inovasi Konservasi di Wildlife Resque Center Jogja

      Sumbernya dari linkedin.com/pub/didik-raharyono/3b/8b5/830

      Makasih ya Adam :)

      Hapus
  2. setuju sam.. jangan mudah percaya dengan orang-orang barat yang segala sesuatunya diukur secara ilmiah.. lah Tuhan aja kadang diukur secara ilmiah, apalagi Tukul, eh Siwil.

    mereka gak paham sih Meru Betiri itu luase seperti apa, malah aku curiga jangan-jangan para bule itu gak melakukan penelitian, tapi malah mancing di Bandealit hehehe

    kalau ditanya apa Siwil itu ada, Hmmm saya yakin dan yakin ada seperti halnya saya masih yakin jika Harimau Jawa masih ada

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, mereka kepingin melogikakan wujud Tuhan. Padahal bagaimana bentuk sinyal hape saja masih belum bisa diuraikan secara rinci :)

      Jika ada kearifan lokal, sudah barang tentu ada kearifan global. Dan itu adalah perbedaan budaya (gaya hidup dan pola pikir) antara barat dan timur.

      Tulisan ini tidak hendak memaksa siapapun untuk mempercayai apa yang kita yakini ada. Ada yang lebih penting dari itu. Yaitu menjaga Taman Nasional Meru Betiri yang menjadi kawasan hunian orang-orang kecil ini.

      Semoga hutan-hutan di negeri ini masih bisa memeluk gelap malam tanpa lampu dan menaungi segala misteri di dalamnya, jauh dari tangan-tangan tak bertanggung jawab (pemilik modal besar) yang ingin merubah status hutan menjadi kawasan yang bebas untuk digilas berbagai pembangunan tanpa sedikitpun mempertimbangkan kelestariannya.

      Wuih, komentarku dowo reeek, hehe.. Tengkyu Sam Lozz. Salam Lestari...!

      Hapus
  3. saya malah tidak pernah dengar tuh manusia kerdil.. jadi penasaran lihat sketsanya....

    BalasHapus
  4. Sketsanya ada di postingan berjudul Mumut Folklor Manusia Katai Dari Jawa, tulisan dari Mas Didik Raharyono. Mas applausr tinggal klik judul di bawah ini :

    Mumut Folklor Manusia Katai Dari Jawa

    BalasHapus
  5. Om, kalau keberadaan siwil ada kan serem juga yaa, tiba2 ajah muncul sosok kecil serem #ngarang, bisa heboh itu indonesia yaa..

    Kalau menikah sesama jenis, gag bisa hamil dong, kalau nikah sama saudara sendiri, wah keturunannya gimana yaa :D

    Menanti sketsa sosok siwil deh :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehe.. eh Niar, selamat ulang taon yooo..

      Ada beberapa tempat di Indonesia yang didiami oleh manusia kerdil.

      Nikah sedarah, tapi tetap beda alat kelamin nduk. Inses. Itukan buruk buat keturunannya.

      Sketsanya sudah ada, sekalian buat kado ultah ya :)

      Hapus

acacicu © 2014