3/31/2012

Keyakinan Adalah Sumber Kekuatan

Ketika masih bocah, saya selalu terkagum melihat penampilan anak seusia saya yang sudah bisa melakukan banyak hal. Misalnya, menari di udara dan meloncat dari satu tali ke tali yang lain. Ya, saya pernah melihat itu di sebuah pertunjukan sirkus yang dulu pernah digelar di kota kecil Jember. Saya juga pernah terpukau pada hasil lukisan seorang sahabat kecil bernama Bahtiar Adi Candra. Itu adalah saat dimana saya ingin menjadi pelukis.

Di waktu yang lain (biasanya di malam minggu), saya senang berlama lama nongkrong di alun alun kota Jember depan Masjid Jami' Al Amin. Dulu di sana ada menara jam dinding yang di kemudian hari berganti menjadi tugu Adipura lalu berubah lagi menjadi taman pohon kurma hingga sekarang. Di tempat itulah saya menikmati atraksi kawan kawan JMC, singkatan dari Jember Mini Cross. Mereka adalah sekumpulan pemuda yang mencintai dunia BMX dan seringkali menghibur masyarakat Jember dengan gayanya yang atraktif.

Ketika beranjak remaja, saya mulai menyukai dunia konser dan festival musik rock. Setiap kali ada sebuah festival, saya selalu meluangkan waktu untuk menjadi bagian dari penonton yang lain. Begitupun ketika ada musisi ibukota yang bertandang ke Jember, kaki saya selalu gatal untuk melangkah ke sana. Syukurlah, di jaman saya belum ada istilah alay.

Ohya, saya juga tumbuh besar bersama bobo, komik donald bebek, asterik obelix, novel remaja semacam lema sekawan karya Enid Blyton, dan novel novel remaja berbau detektif lainnya.

Saya kebingungan dengan yang namanya cita cita. Itu semua pernah saya kisahkan di sebuah tulisan dengan judul Bernostalgia Dengan Cita Cita di Masa Kecil.

Ketika senang membaca novel detektif, sayapun ingin menjadi seorang detektif yang hebat. Hari ini ingin menjadi tentara, esoknya berubah ingin menjadi masinis, di lain waktu saya ingin menjadi pilot helikopter, begitu seterusnya. Saya mudah sekali kagum pada sesuatu. Ketika saya melihat ada bocah sirkus yang bisa menari di udara, saya juga ingin seperti itu. Ketika melihat atraksi kawan kawan JMC, saya tergila gila pada dunia cross BMX. Manakala melihat aksi panggung rocker lokal, sayapun ingin menjadi rocker.

Kelak saat saya besar, saya menjadi lebih mengerti. Semua itu adalah anak tangga yang memang harus saya lewati untuk menuju fase kematangan hidup selanjutnya. Ada saatnya dimana kita selalu merasa ingin menjadi seperti orang lain yang kita anggap hebat, sementara kita melupakan (atau belum tahu) cahaya indah yang terpancar dari diri kita sendiri.

Sama halnya dengan dunia cita cita, pada sesuatu yang bersifat fisik juga tak luput dari pertanyaan pertanyaan masa kecil saya. Kenapa saya begini? Kenapa orang lain seperti itu? Kenapa seakan akan saya berbeda? Kenapa saya kurus? Kenapa kulit saya berwarna hitam? Tapi semuanya menguap manakala saya menundukkan kepala dan melihat kenyataan di sekeliling saya. Betapa sebenarnya saya sering melupakan sebuah kata bernama syukur. Ya, saya bersyukur dengan segala anugerah yang Tuhan berikan kepada saya.


Percaya Itu Kuasa

Pada akhirnya saya mengerti bagaimana rasanya menari di udara dengan cara yang berbeda. Ketika saya menunggangi BMX, saya merasa seperti sedang terbang. Ketika saya berhasil mengecup ketinggian puncak sebuah gunung, sementara di bawah kaki saya terhampar gumpalan gumpalan awan, saya anggap itu adalah sebuah tarian. Ya, saya sedang menari di udara.

Impian impian saya yang lain, satu demi satu dapat saya raih meskipun dengan metode ala saya. Saya bisa melukis meskipun hanya untuk bersenang senang. Ketika dua belas tahun yang lalu seorang sahabat menyarankan untuk tidak melukis mahluk hidup, saya mengikuti sarannya. Tapi saya tetap melukis dan tetap bersenang senang. Tentu saja masih dengan cara saya sendiri.

Percaya itu kuasa, dan saya meyakini itu. Manakala kita percaya bahwa kita bisa melakukan sesuatu yang kita inginkan, itu akan memberi kekuasaan pada hati dan pikiran kita untuk bergerak meraihnya. Kita hanya butuh sedikit keberanian. Dan percayalah, Tuhan bersama orang orang yang berani.

Contoh sederhana. Saya percaya bahwa saya bisa menjadi seorang penulis, maka saya memberi kuasa pada diri ini untuk melangkah meraihnya. Dimulai dari keberanian untuk menuliskan huruf pertama, selebihnya mengalir, seakan akan saya sedang dituntun oleh semilir angin. Alhamdulillah saya bisa meraihnya, meskipun hanya sebagai penulis blog dan penulis lirik lagu. Tapi itu sudah cukup manis dan bisa membuat saya tersenyum. Saya menamakan itu dengan gaya menulis ala diri sendiri.

Percayalah bahwa Tuhan bersama seluruh alam raya ciptaanNya akan mendukung keinginan kita, asal dengan pondasi niat baik dan impian yang bermanfaat, sekecil apapun itu.

Keyakinan Adalah Sumber Kekuatan

Manusia itu bukan hanya tentang casing dan mesin. Tuhan melengkapi mahluk ciptaan-Nya dengan disertai potensi diri. Kita hanya butuh sedikit merenungkannya untuk kemudian melakoni hidup dengan merayap seperti akar. Bergerak perlahan tapi pasti, itu jauh lebih indah daripada bergerak tergesa gesa setelah itu selesai tanpa kabar selanjutnya. Dalam bahasa yang lain, saya lebih nyaman menyebutnya dengan kalimat, "Setia Pada Proses."

Bisa jadi kita memiliki impian yang sama. Tapi yakinlah bahwa kita memiliki potensi yang tidak serupa. Kita bisa meraihnya dengan jalan yang berbeda beda. Seperti yang digambarkan oleh sebuah kalimat tua, banyak jalan menuju roma. Mari kita percaya saja bahwa masing masing dari kita memiliki potensi dan keistimewaan tersendiri. Percaya dan yakin, itu adalah sumber kekuatan.

Sahabat blogger, selamat merayakan hidup dengan beribadah, sesekali bersenang senang, tak henti menggali potensi diri dan selamanya setia pada proses. Salam Lestari dan selamat berdansa dengan kehidupan.




22 komentar:

  1. Mantab... terima kasih atas inspirasinya yaaa, sudah aku masukkan ke dalam list ku :)

    BalasHapus
  2. Inspirasinya lengkap dan panjang...
    Seperti resensi.
    Semoga menginspirasi kita semua dan semoga pula menang di GA nya Mbak Mira

    BalasHapus
    Balasan
    1. BBM nggak jadi naik, makanya saya dapat Pertamax

      Hapus
    2. Hehehe.. terima kasih Pak Mars atas apresiasinya :)

      Ngomongin pertamax jadi kangen sama Mas Alamendah, hehe..

      Hapus
  3. disyukuri ya sam opo onoke, tapi tak juga henti menggali potensi diri. Umpama dikasih semua kesempurnaan pada diri kita, kan bisa lupa diri kita sam.

    Selamat hari minggu sam...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wew, kalimate kok sama kayak yang katanya Dhenok ya. Lebih baik 9 dan berusaha mencari angka 1 lagi, daripada angka 10 yang berpotensi untuk menjadikan diri kita lupa.

      Oke sam, selamat menikmati hari yang seindah ini :)

      Hapus
    2. sembilan, sepuluh itu mah kata2nya Ayah dhenok, anake cuma nyalin, hehhehe... :)

      kok jadi komen disini sih.. :)

      Hapus
    3. Oh ya ding, kata kata Ayahe, hehe..

      Gak apa apa Mbak, komen dimana saja :)

      Hapus
  4. setujah sekali. kalo kita ga yakin kadang hasilnya juga ga memuasakan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih Mas Cecep..

      Hapus
  5. harus yakin akan hasil yang memuaskan, jangan pernah putus asa,

    BalasHapus
    Balasan
    1. Orang yang yakin pada proses yang benar, Insya Allah hasilnya mengikuti.. Terima kasih apresiasinya..

      Hapus
  6. Setuju banget dengan tulisan ini, soale udah mengalami sendiri :).

    Maaf, saya juga jarang main & posting. Sekarang sibuk jualan es Jus ehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Minta es jus-nya dong Mbaaaak...

      Hapus
  7. nice posting nih... sangat inspiratif... "setia pada proses" setuju dengan kalimat ini... powerfull.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tengkyu apresiasinya sobat :)

      Hapus
  8. Aplikasi dari percaya dan yakin ini adalah pekerjaan nyata ya Bro. kalo dasarnya keyakinan seperti yang dituliskan, percaya deh, pekerjaan yang kita lakoni bakal manfaat dan insyaAllah hasilnya buanyak... hihihi...

    hidup adalah bekerja, dengan nafas doa dan bekal percaya bahwa Allah SWT memudahkan usaha kita,,,

    sukses,,, :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Amiin..

      Hidup adalah berkarya, salam sukses ya Ami Osar..

      Hapus
  9. Kalau tidak punya keyakinan, tidak ada artinya hidup. Tentu saja keyakinan yang benar, bukan keyakinan yang sesat.

    BalasHapus
  10. Keyakinan memang penting dan sebagai modal dasar untuk mencapai cita-cita. Tapi keyakinan thok tanpa tindakan ya gak akan terwujud.
    Yakin, usaha, berdoia adalah satu paket.
    Salam hangat dari Suroboyo

    BalasHapus
    Balasan
    1. Haha nggih PakDe. Memang satu paket, kalau dipisah pisah bisa runyam nanti. Terima kasih nggih De, salam sungkem saya buat Bu De Opung, semoga sehat selalu.

      Hapus