Ini udah hari ketiga aku mikirin mau nulis surat kaleng buat kamu. Bingung. Rasanya susaaaah banget. Padahal kan aku cuma pengen nulis surat. Padahal kan harusnya suka suka.
Hmmm, bikin judulnya aja rasanya susah. Bagaimana kalau aku bercerita saja tentang Djember? Kan suka suka aku, hehe..
Okelah.. aku mulai ceritanya..
Kabarnya, kota kecil ini dulu hanya berupa hutan lebat dan berawa. Nggak ada peradaban. Itu bertahan sampai orang orang Londo masuk ke Jawa lho Mel. Yang ada malah peradaban di samping kiri kanannya. Di sebelah utara ada Afdeling Bondowoso, sebelah satunya lagi ada Lumajang (ini adalah kota tua).
Berarti dulu Djember sepi dong?
Sepertinya sih begitu. Siapa yang betah tinggal di hutan berawa. Kalaupun ada yang mencoba, dia harus bisa bertahan hidup dari ancaman binatang buas, ganasnya hutan, incaran malaria, wabah kolera dan masih banyak lagi.
Djember hanyalah lahan ekstim yang ganas belaka. Katakanlah Djember adalah sebuah mahluk, dia tidak akan pernah tahu tentang apa yang terjadi di luar sana. Tentang penemuan penemuan. Tentang telephone, tentang lampu, dan tentang semuanya. Dan itu bertahan hingga awal abad 19.
Sampai pada akhirnya..
Sejarah mencatat beberapa nama. Yang paling populer adalah George Birnie. Dia hanyalah seorang karyawan biasa di perusahaan VOC. Tapi dia berbeda dengan karyawan lainnya. Birnie bisa melihat peluang, dan dia berani mencoba.
Pada saat dia ada di pinggiran wilayah yang akan menembus hutan Djember, dengan seksama dia melihat para petani lokal sedang bergelut dengan tembakau. Melihat bagaimana mereka menanamnya, cara mereka memanen, cara mereka menjemur, hingga memperhatikan cara mereka merajang emas hijau itu sampai ke rajangan terkecil.
Otaknya berputar. Matanya berbinar. Tidak menunggu waktu lama, dia segera mencari tahu tembakau jenis apakah yang cocok buat tanah hutan Djember.
Seiring berjalannya waktu, Birnie memperoleh ijin membuka lahan. Entah bagaimana proses perijinannya. Pokoknya, pada 1859 Birnie NV. LMOD (landbouw Matscapay Out Djember).
Cerita masih panjang. Dan Birnie tidak berhenti melangkah. Dia melebarkan sayap bisnisnya ke berbagai sisi. Gagasannya seperti tak terhenti. Mulai dari pembangunan pelabuhan Panarukan hingga pembuatan jalur rel kereta api Jember-Bondowoso-Panarukan yang berjarak 98 km (dibuka pada 1 Oktober 1897).
Kalau dibaca di buku, rasanya Birnie begitu mudah mendapatkan ijin. Mungkin dia diuntungkan dengan kebijakan baru pihak kolonial. Pada abad 19 itu mereka mengganti sistem. Dari yang tadinya sistem pengolahan bahan menjadi sistem pembangunan perusahaan atau industri.
Aaaah, ribet ya Mel. Pantesan banyak yang membenci pelajaran sejarah, hihihiii..
Djember bukan kota yang lahir dari reruntuhan kerajaan. Dia tidak memiliki kebudayaan khas yang benar benar asli. Coba kau tengok kulinernya. Masih ingat suwar suwir kan Mel? Ya benar, semua warga di sini pasti sependapat bila itu adalah jajanan khas Djember. Padahal suwar suwir itu terbuat dari sari sarinya tape. Dan tape itu kuliner asli Bondowoso.
Tapi Mel, itu bukan untuk diperdebatkan. Memang harus begitu. Setiap wilayah baru pastilah akan menyerap kearifan lokal wilayah di sekitarnya.
Belum lagi tentang bahasa. Kenapa harus terbagi seperti sekarang? Masyarakat Djember utara kesehariannya menggunakan bahasa Madura, sedang Djember selatan Jawa. Dan wilayah perkotaan hampir semuanya bisa kedua duanya. Ini karena pada saat dulu Birnie membuka usahanya, Djember adalah medan magnet baru bagi para pencari kerja.
Didatangkanlah para pekerja dari pedalaman Jawa (kota kota yang letaknya tidak berdekatan dengan pelabuhan). Mereka adalah pekerja yang penurut, tapi oleh Birnie dianggap sering memolor molorkan waktu istirahat. Itu yang membuatnya bikin kebijakan baru. Mendatangkan pekerja dari Madura. Mereka punya etos kerja yang tinggi tapi rewel.
Begitulah Mel, Djember terbangun oleh dua kebudayaan yang besar.
Kamu pasti sedang menguap sekarang.. Iya kan Mel..
Baiklah, aku janji sebentar lagi tulisan suka suka ini akan aku sudahi. Satu paragraf lagi.
Bagaimanapun, aku tidak bisa menyangkal kalau terlahir di kota kecil ini. Itu kenapa aku ingin menciptakan sesuatu. Waktu itu, yang bisa aku persembahkan hanyalah sebuah lagu. Ya sudah, aku meraih gitar, mengenjrengnya dan.. terciptalah sebuah lagu berjudul Ai eLof Djember. Dan lagu ini sekarang aku istimewakan buat kamu Mel.
Lirik Lagu:
Link dengar dan sedot lagu : Ai eLof Djember
Tertanda, Jon Bon Jovi ..
waaaah, keren.. beberapa info sejarahnya malah baru mel tahu *hobitidurpaspelajaransejarah*
BalasHapusbaru kenal itu yang namanya om Birnie..
:D makasih masbro, udah ikutan ngeramein GAnya dunia pagi
kereeen
BalasHapusmasbro ini emang pinter nulis!
@Amel : Alhamdulillah, baru ndaftar langsung disamperin sama Amel, makasih yaaa..
BalasHapus@melly : Kan belajar dari tulisan tulisannya Mbak melly juga hehe,,
Hmm,..Giveaway lagi, aku juga bangga karena aku terlahir, besar di kota Kecil ini Mas..
BalasHapusSukses dengan Giveawaynya Mas, mugo² menang,,,
apiik mas, jadi nambah wawasan ttg jember,,
BalasHapuskapan yah bisa ke jember, padahal dulu waktu kls 3 SMA, pilihan perguruan tinggi salah satunya ya Universitas Negeri Jember, tapi memang belum berjodoh,, heheh
smoga sukses mas
@Kang SOFYAN : Eh ada wong Njember hehe.. Makasih ya Kang SOFYAN,,
BalasHapus@Mas Mabruri : Oalah, miyen sampean milih Unej ya Mas. Iya, belum jodoh kuliah di sini Mas. Tapi itu juga karena Tuhan punya maksud lain, yang lebih baik buat sampean.
Kapanpun sampean maen ke sini, langsung meluncur ke rumah saya Mas. Tapi jangan kaget ya Mas, hehe. Tidurnya juga kumpulan gitu, kayak ikan pindang.
Kuliner asli Jember iku Toppas sam..hahaha
BalasHapuscoba denger lagunya ah.. :D
BalasHapusaku br 2x ke jember mas..tiap dr jember oleh2nya permen tape & roti tape..eh..apa namanya yaa..prol tape ya..?..lupa..hehe..
BalasHapusWuiiiiih, surat kalengnya keren dan ada lagunya pula hehe
BalasHapusSemoga jadi juara ya mas Bro
keren postingannya Masbro
BalasHapussemoga menang yaaa
Assalamualaikum Om Masbro....
BalasHapusmas jon bon jovi boleh minta tandatangan ga?
BalasHapusWah gaul banget ada lagunya...
BalasHapusSemoga menang masbro :)
@Lozz Akbar : Hehehe.. masuk akal sam,,
BalasHapus@Danu Akbar : Silahkan, monggo Mas. Terima kasih ya.
@Mbak Enny Ernawati : Iya, disini ada juga prol tape (mungkin itu juga suwar suwir hehe). Pokoknya yang berbahan tape singkong, di sini ada banyak.
@Mbak Tarry : Matur tengkyu Mbak. Oh ya Mbak, sukses ya buat acaranya yang udah kelar. Semoga bermanfaat dan berkesan di hati banyak blogger. Satu lagi, moga banyak yang terinspirasi..
@Mbak Elsa : Eh Mbak Elsa, sehat Mbak? Makasih ya Mbak atas doanya.
BalasHapus@Adek Dija : WaAlaikumSalam cantiiik. Duh, kangen deh. Kemarin udah liat foto fotonya adek Dija. Tambah gedhe ya sekarang, hehe..
@MBak Lidya : Hiyahahahaaa.. Ini yang bon jovi versi njember Mbak, versi suka suka..
@Mbak Una : Amiiiiin .. Makasih Mbak;
Hohoho
BalasHapusSetelah beberapa kali salah panggil mas lozz akbar dengan sebutan masbro..Baiknya aku kenalan sama masbro yang asli...hohohoh...Salam kenal masbro,ku poloww yaa
Ckckck...Jago sejarah ternyata ya#aku ber OoOoOo ria aja karena baru tau ceritanya dari postingan ini
Anw,kontes ya...Semoga beruntung ^^
Ini adalah link ke youtube, live musik di lagu Ai eLof Djember
BalasHapusDan berikut yang versi video amatir, Ai eLof Djember
Putri Baiti Hamzah : Hehehe, jaman sekarang kan siapa aja boleh dipanggil masbro Mbak. Saya sendiri dapat julukan itu dari kawan2, 13 tahun yang lalu. Keterusan sampe sekarang.
BalasHapusNama saya Hakim atau Aim (dan masih banyak lagi, hehe). Mbak boleh manggil apa aja yang penting sreg.
Ups, panjang deh.. Gak apa apa wes, kan baru kenalan hehe..
Nggak kok Mbak, sekedar suka aja sama sejarah.
Makasih ya Mbak,,
Saya juga belum mengenal jember, tahunya jember sebuah kota di daerah jawa timur.
BalasHapusThanks masbro...
Menggali dan mengangkat sejarah Jember, Ai eLof post ini.
BalasHapuskeluarga ibu saya ada beberapa di daerah Kalisat Jember, tau mas daerahnya?
BalasHapuswah..sudah dengar tu lagunya...jadi ingat gaya-gaya sheila on 7...^__^
BalasHapusHALAMAN PUTIH : Iya bener, Jember ada di Jatim. Makasih kembali.
BalasHapus@Mas Alamendh : Tengkyu Mas,,
@Aryadevi : Iya saya tahu daerah Kalisat. Kadang juga maen kesana cari warung kopi. Dari rumah jaraknya sekitar setengah jaman lah..
@Belajar dan Informasi : jiahaha.. jauh mas, saya masih belajar. Maturnuwon,,
mantaaapppp
BalasHapusMakasih
BalasHapusKeren lagunya mas, menggambarkan kecintaan seseorang pada daerahnya. postingannya juga keren, si Amel pasti langsung kangen untuk pulang ke jember.
BalasHapusSukses selalu buat Mas Bro dan keluarga Bulan Sebelas
Suka-sukanya mantap..pelajaran terselubung ttg sejarah
BalasHapusHahaha surat menyurat tuh emang asik ya :D
BalasHapusBtw, boleh minta backlink ga? Linknya udah dipasang
Link Exchange - Yahyagan Blog
pasti Amel seneng bgt dapet surat inih..
BalasHapusand i love jember so much....
BalasHapuswah menang nih.. selamat dan salam kenal yah.. :)
BalasHapusMakasiiiiih.. hehehe.
BalasHapusIndra Jember. Sebelum George Bernie mendirikan LMOD, 21 Oktober 1859, Jember bukan daerah hutan belantara. Di wilayah Jember abad 16-17, sudah ada kerajaan yang ibukotanya di Koeta Kedawoeng, Kecamatan Umbulsari. Tahun 1331 peristiwa Pasadeng, perang antara Sadeng (Kec Puger) dengan Majapahit. Di Kec Rambipuji diketemukan Prasasti Watu Gong, yang diperkirakan tahun 630-732 M dan Prasasti Congapan, di Kec Sumberbaru, diperkirakan tahun 1088 M.
BalasHapusKak Indra, terima kasih sudah ber-apresiasi di tulisan ini. Iya benar, hehe. Saya menuliskannya dari sisi yang sangat berwajah kolonial, maap ya. Saya juga pernah menulis tentang jember di tahun 1331. Tulisan-tulisan saya ttg jember ada di blog yg lain. Terima kasih.
Hapus