Laman

4/15/2014

Selama Yakin Semua Mungkin

Tamasya Band. Sudah lama sekali tamasya tidak berdendang. Mereka lebih banyak berkegiatan di luar musik. Terakhir manggung adalah tujuh bulan yang lalu, ketika muda-mudi Jember menggelar malam diskusi dan seni bertajuk Save Gumuk.

Pada 11 April kemarin, tamasya kembali tampil di acara tasyakuran 32 tahun SWAPENKA, sebuah organisasi pencinta alam di Fakultas Sastra Universitas Jember.

Kami bermain di lorong, tepat di depan ruang jurusan Sastra Inggris. Menurut Zaenal Chakiki, ketua panitia, tadinya acara tersebut hendak diselenggarakan secara out door, di lapangan futsal Sastra. Namun rintik hujan seharian membasahi bumi Jember. Karpet-karpet yang telah terhampar segera mereka gulung kembali. Lalu mereka memilih untuk memindahkan acara di lorong Sastra.


Berdendang di Lorong Sastra

Mereka hebat, menyelenggarakan acara dengan biaya yang sangat minim. Saking minimnya, mereka bahkan harus memutar otak untuk mendapatkan dana dengan membuat kaos bertuliskan SWAPENKA, suka duka satu kata, dengan logo 32 tahun tepat di bagian dada kanan. "Ini dijual untuk umum," ujar Nendes. Ia adalah salah satu pengurus SWAPENKA.

Saya tidak bertanya lebih lanjut mengenai seretnya dana tersebut. Hanya menebak saja, barangkali ini ada hubungannya dengan kebijakan Dekanat Sastra yang melakukan penahanan dana kegiatan UKM.


Dokumentasi oleh SWAPENKA

Seusai berdendang, saya tidak bersegera pulang melainkan masih cangkruk'an bareng kawan-kawan pencinta alam. Ada saja yang mereka tanyakan. Yang paling populer, "Kenapa tamasya hanya menyanyikan empat lagu?" Bingung juga menjawabnya. Syukurlah, beberapa jam sebelumnya, lewat jejaring sosial facebook, tamasya band sudah mengabarkan itu.

"Ada lagu untukmu. Lagu yang sederhana. Kami tidak menyiapkan daftar lagu yang banyak, mungkin hanya empat atau lima saja. Namun, semoga bisa membuatmu damai. Sampai jumpa nanti malam. Salam Lestari!"

Selama Yakin Semua Mungkin

Kepada Lukman Hakim, ketua umum SWAPENKA, saya melempar sebuah tanya. Tentang suguhan yang disajikan. Ada saya lihat, kawan-kawan menyiapkan aneka orem-orem dan urap-urap. Belum lagi jajanan-jajanan kecilnya. Darimana mereka mendapatkan uang? Apakah dari hasil laba kaos yang dijual?

"Kami memasak sendiri Mas. Gotong royong, dari pagi hingga sore menjelang acara. Kami membuat semacam dapur umum di belakang sekretariat. Beberapa bahan-bahan masakan memang kami membelinya, namun sebagian yang lain adalah hasil iuran kolektif. Ada yang datang membawa beras, sayuran, bumbu-bumbu, hasil kebun mereka sendiri, ada juga yang dengan sengaja mencari beberapa bahan di rumah si Buter. Mereka berburu pepaya, kelapa dan sayur pakis."

Keren. Kolektif. Gotong royong.

Saya jadi ingat tasyakuran dua tahun sebelumnya. Ketika itu saya dan istri juga turut ngramban sayur pakis di dekat rumah si Buter. Kebetulan rumahnya ada di tepian hutan. Sayur-sayur itulah yang kami sajikan untuk para undangan.

Diramu dengan hati, disajikan dengan cinta, itulah urap-urap ala pencinta alam.

"Ohya, ada lagi Mas. Kami anggota aktif SWAPENKA kemarin melakukan iuran wajib, masing-masing 30 ribu rupiah."

Saya diam, takjub dengan apa yang mereka lakukan. Jika bicara tentang dana, Ormawa lain di Sastra tidak kalah ngenesnya dengan yang dirasakan Lukman Hakim dan kawan-kawan. Padahal mereka sedang turut mengharumkan nama fakultas lewat karya. Tak terbayangkan apa jadinya jika mereka semua mogok berproses, tentu nama baik Sastra akan jadi taruhannya.

Tambahan

Lalu saya merenung, memikirkan tamasya band. Kami lahir di antara pelukan pencinta alam, mengadopsi beberapa gaya hidup dan pola pikir mereka, termasuk mengadopsi kalimat, "Selama yakin semua mungkin." Berpikir, berkarya, bersikap dan mencoba menjadi berguna, itu yang coba kami lakukan. Tidak ada kerisauan tentang eksistensi. Sebab kami rasa, menyediakan mental untuk dilupakan itu juga baik.

Untuk menuju 'benar' kami melewati banyak sekali kesalahan-kesalahan. Mereka selalu mengingatkan dengan segala cara, kadang dengan sapaan halus kadang lewat tamparan.

Tentu kami akan terus menerus mencari cara untuk tetap menjadi berguna, baik lewat lirik, lewat tempaan tanggung jawab terhadap lirik, maupun lewat jalur-jalur yang lain, jalur hidup kami sendiri. Doakan semoga kami bisa.

Terima kasih dan Salam Lestari!