25.8.14

Saat Musim Karnaval Tiba

25.8.14

Foto oleh Faisal Korep, 24 Agustus 2014

Saat musim karnaval tiba, harga kemoceng akan naik. Di hari biasa, ia dihargai tujuh ribu hingga sepuluh ribu rupiah. Namun di musim karnaval, harganya bisa melonjak hingga seratus persen. Di tangan para desainer kostum seperti Ivan Bajil, kemoceng akan berubah fungsi. Ia tak lagi digunakan sebagai alat pembersih debu manual, melainkan hanya diambil bulu-bulunya saja.

Di musim yang lain, kemoceng adalah barang remeh yang seringkali tak dipedulikan keberadaannya. Saat musim karnaval tiba, ia tak lagi marjinal.

Kini, karnaval adalah tentang bulu-bulu unggas.

Saat musim karnaval tiba, orang-orang seperti Ivan Bajil akan lebih giat mendatangi babebo. Mereka menyerbu pusat perbelanjaan baju bekas murah dengan kualitas ekspor. Yang diincar adalah baju-baju empat musim, dimana ada penutup kepala yang dilingkari motif bulu-bulu.

"Lalu baju bekas itu akan kami 'edel-edel' dan kami ambil bulu-bulunya," kata Lukman, partner Ivan Bajil.

Saat musim karnaval tiba, anak-anak kecil di pinggiran kota akan merengek pada orang tuanya. Mereka meminta kostum karnaval yang ada bulu-bulunya, lengkap pula dengan sayapnya.

Sayap, ia adalah mimpi setiap anak kecil.

Dulu saya juga pernah sangat ingin sekali memiliki sayap agar bisa terbang seperti burung. Barangkali, angan-angan tentang sayap pernah dimiliki oleh semua orang. Kabar baiknya, karnaval bisa mewujudkan impian kolektif itu.

Ia mengingatkan saya pada penggalan tulisan Bre Redana yang pernah terbit di Kompas, 23 Desember 2012. Di artikel berjudul; Kebudayaan dan Politik Tubuh, Bre Redana menuliskan ini.

"Mengingat sekarang ini era konsumsi, kalau Anda punya uang, semua itu bisa dibeli."

Kini, karnaval adalah tentang sayap dan bulu-bulu unggas.

Catatan

Artikel ringan ini juga saya post di akun Facebook baru, di sini.

Salam saya, RZ Hakim.
acacicu © 2014